Keluhan Mahasiswa Baru
Ini mungkin hanya cerita keluh-kesah mahasiswa baru di salah satu kantin kampus di Kalimantan. Mahasiswa yang mungkin terlanjur memuji, sekaligus terlanjur kecewa dengan tingkah laku senior. Sambil menikmati segelah es teh, dia menulis dan pada akhirnya tulisannya itu dia lempar pada sebuah rubrik mading kampus. Begini tulisannya:
"Kau sekarang
sudah jadi mahasiswa,nak. Kau harapan keluarga ini juga bangsa ini. Tapi,
Kenapa kau terlihat muram,sayang"
"Tadi malam q singgah di sebuah lesehan bunda"
"Lalu"
"Aku bertemu beberapa orang"
"Kenal kau dengan mereka"
"Mereka seniorku dikampus bunda"
"Kenal mereka dengan kau"
"Sepertinya tidak"
"Jadi?"
"Sengaja q pilih tempat duduk dekat mereka. Biar bisa ku dengar percakapan mereka"
"Apa yang mereka perbincangkan"
"Tadinya ku berharap mereka diskusi tentang bangsa ini, negeri ini, tanah ini, pulau ini"
"Mereka kabulkan harapanmu itu"
"Tidak, bunda. Mereka justru menggunjing teman mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Seperti negeri ini sudah merdeka"
"Nak, kau itu Islam, dalam darahmu juga mengalir darah kalimantan. Tak pernah Pangeran Antasari, Panglima Batur dan Tjilik Riwut mengajarkan kita seperti itu. Jangan kau tiru mereka"
"Tadi malam q singgah di sebuah lesehan bunda"
"Lalu"
"Aku bertemu beberapa orang"
"Kenal kau dengan mereka"
"Mereka seniorku dikampus bunda"
"Kenal mereka dengan kau"
"Sepertinya tidak"
"Jadi?"
"Sengaja q pilih tempat duduk dekat mereka. Biar bisa ku dengar percakapan mereka"
"Apa yang mereka perbincangkan"
"Tadinya ku berharap mereka diskusi tentang bangsa ini, negeri ini, tanah ini, pulau ini"
"Mereka kabulkan harapanmu itu"
"Tidak, bunda. Mereka justru menggunjing teman mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Seperti negeri ini sudah merdeka"
"Nak, kau itu Islam, dalam darahmu juga mengalir darah kalimantan. Tak pernah Pangeran Antasari, Panglima Batur dan Tjilik Riwut mengajarkan kita seperti itu. Jangan kau tiru mereka"
Catatan "Bugil" (Bukan Goresan ILmiah)
Yogyakarta, 14 September 2013
Yogyakarta, 14 September 2013
memang beda mun yang menulisnya sastrawan, kalimat ringan ja bisa begitu berisi...
ReplyDelete