Showing posts with label Bugil. Show all posts
Showing posts with label Bugil. Show all posts
Thursday, December 24, 2015
SAYA HADIR, BUKAN MERAYAKAN NATAL
Entah kenapa dalam setiap kesempatan jika orang bertanya tentang keluarga, saya sangat mudah sekali untuk menceritakan bahwa saya lahir dari rahim seorang ibu yang mullaf. Bercerita, bahwa Ibu dan beberapa sepupu dan adik di keluarga beliau juga banyak yang memilih Islam. Berbagi, bahwa nenek dan kakek serta paman dan bibi saya masih teguh memeluk agama mereka, kristen. Paman, bibi dan ibu yang dulu menjadi musisi-musisi gereja. Yah, seperti ada kebanggan tersendiri bagi saya. Bangga bahwa melalui pernikahan ayah dan ibu ini, Tuhan seperti membuat design yang spesial bagi saya. Kebanggan yang tidak banyak di alami teman-teman saya yang mayoritas Islam, karena memang beberapa keturunan nenek moyang dulu mereka sudah Islam sejak lama.
Bisa dibayangkan memiliki keluarga yang berbeda agama tentu bagi saya ketika masih kecil bukan hal yang mudah. Sempat dulu terpikir oleh willy kecil bahwa dia adalah sosok yang memiliki badan sebelah beragama Islam dan sebelah beragama Kristen. Bahkan, selama 3 tahun sejak saya masuk dan belajar di sebuah pesantren, saya tidak pernah lagi mengunjungi kakek nenek saya yang non-muslim. Kadang seperti jijik makan mengunakan alat makan mereka, yang siapa tau pernah digunakan untuk makanan yang diharamkan oleh agama saya. Kadang merasa risih harus sholat di rumah yang banyak terpampang gambar yesus dan simbol-simbol kristen lainnya.
Namun, dengan berjalannya waktu. Dengan banyaknya dinamika hidup yang saya lewati. Dengan banyak bertanya dan belajar, saya akhirnya berada pada kesimpulan yang saya kira ini jawaban yang saya cari dan saya butuhkan. Yah, ini bukan proses yang mudah bagi saya. Saya sangat yakin, proses yang saya jalani ini tentu tidak lepas dari petunjuk Allah. Saya belajar bagaimana saya harus bertoleransi, belajar bagaimana perbedaan agama bukan justru menjadi penghalang bagi terjalinnya silaturrahmi antar keluarga.
Sekarang saya hadir dan berkumpul saat keluarga saya, pihak ibu yang mayoritas non-muslim, merayakan natalnya. Bercengkara dan saling bertukar kisah dengan meraka, karena momentum berkumpulnya semua kelurga kalau tidak kawinan ya natal. Hadir bukan berarti saya datang dan kemudian mengucapkan Selamat Natal pada mereka. Karena bagi saya mengucapkan natal sama dengan meng-imani bahwa Yesus adalah Tuhan, dan keluarga saya mafhum soal ini. Hadir dan berkumpul bukan berarti bentuk saya setuju dengan keyakinan mereka, bukan menunjukkan sikap bahwa saya mengamini perayaan mereka. Momentum ini saya anggap sebagai bentuk sosial bukan bentuk ritual, bentuk silaturrahmi antara anak dan orangtua, antara cucu dan nenek, antara cucu dan kakek, antara keponakan dan paman yang memang harus terjaga.
Begitu juga sebaliknya, ketika kami merayakan Hari Raya Iedul Fitri, jika ada kesempatan keluarga non-muslim biasayan juga berkunjung dan berkumpul dengan kami yang Islam. Ya, saya kira ini keharmonisan hubungan yang sudah seharusnya terus dijaga. Sekali lagi, saya betul-betul bangga. Bangga, bahwa dengan kondisi ini saya banyak belajar tentang toleransi. Bangga, karena tidak semua orang bisa mudah melakukan dan menerima ini. Bangga, bahwa saya lahir sebagai Muslim dan belajar Islam yang cinta dan memerintahkan umatnya untuk terus menjaga perdamaian. Namun juga tetap selalu menjaga akidahnya. Wallahu A’lam.
Thursday, April 30, 2015
KEMBALI MENJADI HMI
Himpunan Mahasiswa
Islam atau HMI merupakan sebuah organisasi yang bisa dibilang cukup popular di
kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa aktivis. HMI memiliki sejarah panjang
sejak awal-awal kemerdekaan Indonesia. 58 Tahun yang lalu, sejak masuk secara
resmi pada tahun 1957 di Kalimantan melalui Banjarmasin, HMI sudah banyak
menelurkan kader-kader yang berkualitas
di Kalimantan. Banyak kader-kader HMI yang menempati posisi-posisi penting
seperti di bidang politik, akademik, entrepreneurship dan di bidang lainnya. Sebagai
generasi yang lahir belakangan, sekarang nampaknya kader HMI seperti sedang
mengidap penyakit amnesia sejarah. Penyakit yang bisa melemahkan sendi-sendi
berorganisasi. Kita hampir tidak belajar banyak terhadap kesuksesan dan
keberhasilan generasi sebelum kita. Justru meskipun bicara sejarah, cendrung kita
hanya menggingat dan bernostalgia tanpa mengambil pelajaran dari masa lalu.
Namun yang paling
penting, meski mengingat sejarah merupakan suatu upaya yang harus dilakukan.
Kita juga harus cerdas memilih dan memilah yang mana yang harus dijadikan
“kiblat” organisasi dan mana yang tidak untuk diteladani. Meskipun begitu, nostalgia
sejarah harusnya tidak menjadikan kita terus terbuai sehingga membuat kita lupa
dengan fakta masa kini. Salah satunya adalah dengan cara terus melakukan
evaluasi dan introspeksi terhadap fenemona-fenomena elementer yang terjadi di
pelataran HMI sekarang.
Bolehlah kita
bertanya, bagaimana kondisi HMI (kader) sekarang? Bagaimana gerakan HMI di
zaman yang semakin kompleks ini? Masih kuatkah posisi HMI di kalangan mahasiswa
dan masyarakat? Pertanyaan sederhana ini nampaknya juga berlaku untuk
dilontarkan kepada kader-kader HMI di Kalimantan Selatan. Anggaplah itu semacam
pertanyaan sederhana orang yang tidak mengetahui betul sejauh mana keberadaan
HMI saat ini. Yah, paling tidak ini masih jauh lebih ringan dibanding ucapan
maestro HMI, Cak Nur, yang menyentak dengan menyebutkan bahwa HMI sudah
selayaknya membubarkan diri karena dianggap tugas sejarahnya sudah
selesai.
Meminjam teori kritisisme
bahwa dalam tradisi ilmu pengetahuan, ia selalu memiliki sifat yang berkembang.
Secara sederhana, kritisisme adalah tindakan mengkritik yang lama dan membangun
yang baru. Dalam konteks organisasi, budaya organisasi yang telah lama mengakar,
yang dianggap sudah tidak mampu menjalankan peranan dan fungsinya secara total
maka ia patut digeser dan digantikan dengan budaya dan perspektif baru yang
lebih mampu dan memiliki hasil yang jauh lebih unggul dan lebih utuh.
Diantara ciri yang
melekat pada kaum intelektual adalah bersedia di tegur dan siap menghadapi
kritik. Meminjam apa yang pernah di sampaikan salah satu senior HMI, Anas
Urbaningrum, bahwa kritik itu dapat dipahami dalam dua aspek. Pertama, kritik
dianggap sebagai bentuk harapan atau paling tidak sebagai care (kepedulian) dari sang pengkritik. Bisa juga yang kedua
sebagai social capital yang
diharapkan mampu menjadi peransang perbaikan internal (internal correction).
Kondisi Kader HMI Kalimantan
Selatan
Setiap orang tentu
memiliki penilaian berbeda terhadap sesuatu. Namun jika penilaian itu sudah
menjadi penilain kolektif dan mayoritas, maka penilaian tersebut sudah harus
patut diperhitungkan dan dijadikan bahan introspeksi. Sekarang ini, meski
mungkin saya tidak bisa menjelaskan secara statistik atau bahkan tidak didasari
penelitian ilmiah. Namun jika kita mau sedikit saja lebih jujur melakukan perbandingkan
antara HMI dulu dan HMI sekarang, tentu kita akan mengakui bahwa HMI hari ini,
khususnya HMI Kalimantan Selatan, sudah banyak mengalami kemunduran. Baik itu
dalam konteks kajian keilmuan, kajian keislaman, budaya diskusi, budaya
membaca, budaya menulis apalagi terlibat dalam membangun bangsa dan daerah ini.
Bagaimana mungkin HMI
bercita-cita menjadikan daerah ini berkembang dan maju. Sedangkan kadernya
malas membaca, malas diskusi dan malas belajar. Bukankah HMI adalah organisasi mahasiswa?
Tentu sebagai oraganisasi yang memiliki basis domain di kalangan mahasiswa,
harusnya intelektualitas mahasiswa itu juga melekat di dalam tubuh kader dan organisasi
tersebut. Mestinya iklim ilmiah dan forum diskusi lebih banyak porsinya
ketimbang forum-forum nir-intelektual. Jika dulu orang tertarik masuk dan
menjadi kader HMI karena HMI intens melakukan kajian-kajian yang bersifat
ilmiah. Lalu sekarang apa daya tarik dan daya tawar (bargaining position) yang dimiliki oleh HMI?
Krisis internal di
dalam tubuh HMI ini berakibat pada turunnya minat kepercayaan mahasiswa untuk
masuk dan menjadi kader HMI. Animo mahasiswa terhadap HMI saat ini terlihat
sangat kurang. Saya khawatir HMI hanya akan menjadi alat oknum yang ingin
mendompleng nama HMI lalu menjadikan HMI sebagai kendaraan politik saja, yang
belakangan saya lihat akar-akar ini sudah mulai muncul. Sehingga jangan heran
jika suatu saat menemukaan kader yang memiliki motivasi masuk HMI karena ingin
menjadi ketua BEM atau ketua Senat, misalnya. Bercita-cita menjadi ketua
BEM/Senat itu sama sekali tidak salah. Kader sah menjadi apa saja yang dia
inginkan, dan HMI saat itu memang harus hadir sebagai motivator dan
mengakomodasi keinginan kader. Namun itu saja tidak cukup, itu bukanlah tujuan
akhir ber-HMI. Sebab tujuan HMI sebenarnya adalah apa yang tertuang di dalam
konstitusi (Visi dan Misi) HMI itu sendiri. Terbinanya
Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan Bertanggungjawab
atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang di Ridhai Oleh Allah SWT.
Siapa yang
bertanggungjawab atas fenomena organisasi yang terjadi hari ini? Kini bukanlah
saatnya mencari siapa yang salah dan siapa yang bertanggungjawab. Kader-kader (muda
ataupun biasa) bahkan Alumni (KAHMI) harus mengambil bagian dalam perbaikan dan
pembenahan organisasi yang kita cintai ini.
Student Need, Student Interest
Student
Need
dan Student Interest adalah diskusi
panjang mengenai hal-hal yang berhubungan dengan keperluan mendasar mahasiswa. Harusnya
poin inilah yang menjadi fokus perhatian HMI. Kader-kader HMI sudah saatnya
mengambil alih posisi strategis dan vital di setiap lini dan ruang kegiatan
kemahasiswaan. Tidak hanya diartikan dalam konteks posisi politis, namun yang
jauh lebih penting adalah di dalam konteks akademis dan ke-Islaman. Boleh
ditanya, secara sederhana, seberapa kuat kiprah aktivis HMI di dalam
diskusi-diskusi ruang kuliah saat ini? Sudahkah mereka menjadi sosok role model yang memberikan stimulus
positif terhadap mahasiswa lain? Sudahkah mereka menjadi mercusuar gerakan
mahasiswa di kampus-kampus dan daerah? Sehingga jika demikian hasil yang sudah
di raih maka HMI akan memiliki brand image atau identity yang dianggap mampu memberikan value added (nilai tambah) kepada mahasiswa lain.
Bukankah organisasi
merupakan alat yang terlahir dari refleksi kebutuhan manusia-manusia yang
memiliki keinginan namun tidak mampu merealisasikan secara sendiri-sendiri.
Oleh sebab itulah kenapa student need
dan student interest harus menjadi
perhatian penting HMI. Maka jika ada kader yang menginginkan atau memiliki
ekspektasi tinggi terhadap organisasi ini, itu merupakan hal yang sangat wajar.
Disana lah akan terlihat bahwa HMI memang menjadi salah satu wadah yang dibutuhkan oleh mahasiswa, dan
tugas HMI adalah membantu merealisasikannya.
Re-interpretasi Visi
dan Misi HMI
Visi dan Misi HMI
yang tertuang dengan jelas tersebut merupakan janji-janji kader yang terus dilafazkan
dalam setiap kesempatan kegiatan formal maupun nonformal HMI. Janji-janji
tersebut tentu menjadi satu ikrar yang sakral dan sudah seharusnya mampu
diwujudkan dalam segala bentuk tingkah-laku kader-kader HMI. Sebagai organisasi
kemahasiswaan yang memiliki nilai (Value)
yang besar dan mulia, menawarkan pengetahuan (Knowledge) dan memberikan kemampuan/ketrampilan (Skills). Tentu semua itu akan menjadi
nilai tambah (value added) bagi
organisasi ini.
Namun, pada
kenyataannya kualitas tersebut masih menjadi semacam mitos di tubuh HMI Kalimantan Selatan. Semakin hari eksistensi dan
peranan HMI semakin memudar, meski tidak bisa juga disebut hilang. Oleh karena
itu perlu untuk melakukan rekonstruksi atau reinterpretasi terhadap nilai-nilai
yang terkandung di dalam visi dan misi tersebut. Setidaknya ada tiga aspek yang
bisa saya lihat dalam bahasan ini.
Pertama, Knowledge Production. Ini merupakan
sebuah paradigma penting dalam upaya melakukan re-interpretasi terhadap Visi
dan Misi HMI . Sebab, tugas “Insan Akademis dan Pencipta” yang dimaksud dalam
visi HMI adalah mampu memproduksi keilmuan-keilmuan baru atau memperluas
cakupan-cakupan serta kajian-kajian keilmuan yang sudah terbentuk. Pengetahuan
atau ilmu bukan sebuah konstruksi yang permanen, dia bersifat dinamis. Sehingga
ia perlu diperbaharui sesuai dengan kebutuhan zaman. Diantara yang dapat
dilakukan adalah dengan menghidupkan dan melakukan semangat penelitian. Dengan
melakukan penelitian maka HMI akan mampu memproduksi pengetahuan/ilmu, yang
pada akhirnya memberikan result
sebagai bentuk solusi dari banyaknya permasalahan di masyarakat.
Kedua,
Knowledge Mobilization. Komponen ini
merupakan lanjutan dari proses memproduksi pengetahuan. Proses ini sebagai
bentuk upaya HMI dalam menyebarkan pengetahuan/keilmuan (share knowledge) yang telah dihasilkan, bisa berbentuk pendidikan,
pelatihan atau diskusi. Ini juga merupakan bentuk dari interpretasi visi “Insan
Akademis”. Sehingga pengetahuan atau hasil penelitain tidak hanya berakhir dalam
bentuk buku-buku yang menghiasi rak-rak perpustakaan. Namun juga disampaikan
dan diajarkan demi terwujudnya pemerataan pengetahuan dikalangan kader HMI dan
juga masyarakat pada umumnya.
Ketiga,
Community Mobilization. Menciptakan,
memproduksi, memperluas pengetahuan secara teoritis dan melakukan
kajian-kajiannya dalam forum-forum diskusi tidaklah cukup. “Insan Pengabdi”
mestinya mengharuskan kader untuk lebih impelementatif terhadap keilmuan yang
sudah didapat. Keharusan untuk memobilisasi kebutuhan masyarakat adalah kewajiban
yang tak dapat dihindari oleh kader HMI. Sebab dengan melakukan pengabdian,
kader baru bisa dan layak di sebut sebagai kader yang betul-betul unggul dan
berkualitas seperti yang dijanjikan oleh Himpunan Mahasiswa Islam.
HMI tidak
menginginkan kadernya hanya mampu berwacana namun lemah dalam aksi lapangan.
“HMI untuk Rakyat” seperti yang terus disampaikan oleh Ketum PB HMI dalam
setiap kesempatan, menurut saya, sudah cukup menjadi kabar gembira buat kita. Tidak
berlebihan jika Jenderal Soedirman pernah mengemukakan bahwa HMI adalah
“Harapan Masyarakat Indonesia”. Sebab peran dan fungsi kader HMI sebagai
generasi akademis yang Islami memang menjadi harapan Bangsa dan Masyarakat
Indonesia untuk melakukan perbaikan terhadap keadaan bangsa Indonesia. Jika ini
mampu kita hidupkan, maka HMI akan menjadi kiblat gerakan mahasiswa khususnya
di Kalimantan Selatan.
Mungkin
apa yang saya lihat ini hanyalah segelintir masalah internal di dalam tubuh
HMI. Tentu jika kita mau lebih jujur lagi melihat organisasi yang sama-sama
kita cintai ini, akan banyak sekali potensi-potensi virus yang harus segera
kita basmi dan tuntaskan. Jika kita mencintai organisasi ini, tentu sudah
selayaknya lah kita rawat baik-baik. Bila ada goresan yang membuatnya tidak
seksi lagi, tidak ada cara lain selain kita dandani dan make over agar kembali terlihat cantik. Mari kita kembali ber-HMI,
dengan sebenar-benarnya HMI. Wallahu A’lam.
Banjarmasin,
28 April 2015
Friday, April 25, 2014
Barito Utara Penuh Potensi
Kabupaten Barito Utara punya banyak
potensi dalam berbagai sektor. Pada sektor wisata misalnya, akan menjadi basis
paling fundamental untuk dijadikan pusat pemasukan dana untuk daerah. Barito
yang dikelilingi dan dipenuhi sungai barito dan hutan akan sangat menarik untuk
mendatangkan wisatawan domestik maupun asing.Jika potensi ini benar-benar bisa
dikelola, ini akan menjadi power,
selain akan menjadi pemasukan buat daerah. Ini juga akan mampu mengakomodir
serta mampu mengoyomi masyarakat-masyarakat setempat dalam keterlibatan
membangun daerah mereka. Selain itu, sungai juga akan menjadi alat tranportasi
alternatif dalam proses koneksi antar kabupaten dan provinsi. Begitu juga transportasi
darat, potensi ini juga tidak kalah besar.
Menyikapi potensi alam, seperti
batubara, emas dan lainnya. Tentunya, kita harus menyikapi semua potensi itu
dengan cerdas dan bijak. Dengan maraknya pertumbuhan perusahaan tambang dan
emas yang ada di kabupaten Barito Utara sebenarnya bukan untuk mengalakan dan
melahirkan kesejahteraan masyarakat, tapi sebaliknya. Setan Kapitalisme, justru
tumbuh serta hadir untuk menghacurkan tanah dan sungai barito. Tambang, emas
dan potensi alam lainnya bukanlah warisan nenek moyang kita. Tetapi, itu adalah
pinjaman anak cucu kita. Jadi kita punya kewajiban untuk menjaga dan bukan
malah menghancurkan pinjaman tersebut. Masyarakat jangan lagi tergiur dengan
iming-iming imbalan, namun mereka meletakkan kita pada posisi “kuli”. Kita
menjadi kuli didaerah kita sendiri.
Melihat begitu besarnya potensi barito
Utara. Yang paling urgen adalah kita harus mengalakkan peningkatan dan
pemberdayaan Sumber Daya Manusia untuk menjadi balances Sumber Daya Alam yang
begitu besar. Sebab yang menjadi akar masalah, Sumber Daya Alam yang besar
tidak diimbangi oleh Sumber Daya Manusia yang berkulitas. Sehingga jika SDA dan
SDM seimbang, diharapkan idealisme SDM yang berbasis daerah akan menjadi sumber
kekuatan bagi pencapaian kesejahteraan masyarakat. Bahkan kapan perlu kita akan
lalukan proses pembajakan sumber daya manusia daerah yang ada di wilayah lain
untuk kembali dan diletakkan pada posisi strategis untuk menjadi bargaining
position dalam perwujudan cita-cita daerah.
Catatan "Bugil" (Bukan Goresan ILmiah)
Muara Teweh, 17 Maret 2013
Monday, April 21, 2014
PEMUDA “KINI” DALAM CERITA CINTA
Mungkin siapa saja
akan mengaku mencintai negara dan bangsanya. Apalagi pemuda yang lagi berada
pada masa awal transisi atau peralihan pemikiran, individualistik lalu sosial-kolektif.
Pemuda yang tadinya gemar beramai-ramai dengan teman-temannya keliling kota,
atau duduk dengan sebilah rokok disela jari, untuk gaya-gayaan, di
warung kopi jalanan, sekedar main kartu dan tertawa-tawa. Mereka perlahan ber-metamorposa
menjadi pemuda-pemuda dinamis, merasa lebih ingin terlihat lebih berani dan
kritis. Maka, berbicaralah mereka tentang negara dan bangsanya yang sedang
mengalami kemunduran dan krisis. Meski tetap saja berkumpul diwarung kopi,
rokok bukan lagi sebuah penghias style untuk gagah-gagahan,
persisnya sudah merupakan kebutuhan. Mereka berhenti tertawa, bisa saja tertawa
untuk sekedar pengkhilang ketegangan, sebagai bentuk apresisasi terhadap otak
dan naluri yang berkerja beberapa saat tadi. Mereka takut dicurigai sedang
menertawakan bangsa mereka yang sedang dalam fase kritis. Mereka lebih banyak
membaca buku sosial dan filsafat, juga berbicara sejarah dan kemerdekaan bahkan
kadang berlagak mengerti tentang politik beserta intrik-intriknya.
Tapi siapa yang
menjamin semua pemuda mengalami perubahan ini? Ada lebih banyak anak muda yang
disibukkan dengan bunga-bunga cinta ketimbang masalah bangsa dan negaranya. SMA
ke Mahasiswa, hanya sebuah transisi yang membuat mereka lebih bebas dan
leluasa. Semacam simbol yang menegaskan bahwa mereka sudah dewasa dan bebas
melakukan ekspresi dalam bentuk apa saja. Yah, pemuda Indonesia memang bukan
seperti Joachim Peiper yang ikut pemuda Hitler pada usianya yang ke-18,
lalu 3 tahun sesudahnya dilantik menjadi letnan. Bukan juga seperti Mountbatten
yang sudah dipercaya menjadi wakil Raja Inggris untuk India diumur ke-21. Tapi,
pemuda mana yang tak tau Soekarno dan Hatta. Dau tokoh bangsa yang sangat
berpengaruh dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Dalam kedaan terjarah oleh
bangsa lain, justru Soekarno dan Hatta, pada masa mudanya sudah menyerahkan
hidup mereka untuk perjuangan. Mereka membakar semangat rakyat. Mereka menangis
bukan karena kesibukan bercinta, tapi kesibukan tentang nasib bangsa dan rakyat
Indonesia.
Inilah alasan kenapa
soekarno pernah bilang “Berikan aku 10 pemuda, maka akan ku goncangkan dunia”. Pemuda
memiliki dua mata pisau yang sama tajam, bisa mereka menjadi pembangun bangsa, sekaligus
bisa juga penghancur bangsa. Tergantung pada posisi mata pisau mana mereka
bertempat diri. Inilah yang sedang terjadi, selalu ada tokoh yang memerankan
pahlawan dan penjahat.
Catatan "Bugil" (Bukan Goresan ILmiah)
Yogyakarta, 18 April 2014
Yogyakarta, 18 April 2014
Sunday, April 20, 2014
Keluhan Mahasiswa Baru
Ini mungkin hanya cerita keluh-kesah mahasiswa baru di salah satu kantin kampus di Kalimantan. Mahasiswa yang mungkin terlanjur memuji, sekaligus terlanjur kecewa dengan tingkah laku senior. Sambil menikmati segelah es teh, dia menulis dan pada akhirnya tulisannya itu dia lempar pada sebuah rubrik mading kampus. Begini tulisannya:
"Kau sekarang
sudah jadi mahasiswa,nak. Kau harapan keluarga ini juga bangsa ini. Tapi,
Kenapa kau terlihat muram,sayang"
"Tadi malam q singgah di sebuah lesehan bunda"
"Lalu"
"Aku bertemu beberapa orang"
"Kenal kau dengan mereka"
"Mereka seniorku dikampus bunda"
"Kenal mereka dengan kau"
"Sepertinya tidak"
"Jadi?"
"Sengaja q pilih tempat duduk dekat mereka. Biar bisa ku dengar percakapan mereka"
"Apa yang mereka perbincangkan"
"Tadinya ku berharap mereka diskusi tentang bangsa ini, negeri ini, tanah ini, pulau ini"
"Mereka kabulkan harapanmu itu"
"Tidak, bunda. Mereka justru menggunjing teman mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Seperti negeri ini sudah merdeka"
"Nak, kau itu Islam, dalam darahmu juga mengalir darah kalimantan. Tak pernah Pangeran Antasari, Panglima Batur dan Tjilik Riwut mengajarkan kita seperti itu. Jangan kau tiru mereka"
"Tadi malam q singgah di sebuah lesehan bunda"
"Lalu"
"Aku bertemu beberapa orang"
"Kenal kau dengan mereka"
"Mereka seniorku dikampus bunda"
"Kenal mereka dengan kau"
"Sepertinya tidak"
"Jadi?"
"Sengaja q pilih tempat duduk dekat mereka. Biar bisa ku dengar percakapan mereka"
"Apa yang mereka perbincangkan"
"Tadinya ku berharap mereka diskusi tentang bangsa ini, negeri ini, tanah ini, pulau ini"
"Mereka kabulkan harapanmu itu"
"Tidak, bunda. Mereka justru menggunjing teman mereka dengan tertawa terbahak-bahak. Seperti negeri ini sudah merdeka"
"Nak, kau itu Islam, dalam darahmu juga mengalir darah kalimantan. Tak pernah Pangeran Antasari, Panglima Batur dan Tjilik Riwut mengajarkan kita seperti itu. Jangan kau tiru mereka"
Catatan "Bugil" (Bukan Goresan ILmiah)
Yogyakarta, 14 September 2013
Yogyakarta, 14 September 2013
Powered by Blogger.
